Jangan Cuma Dengerin yang Itu-Itu Aja: Ini Dia Band-Band Metal Underrated yang Wajib Masuk Playlist Kamu!

 Pecinta musik metal pasti nggak asing sama nama-nama besar seperti Metallica, Slipknot, atau Lamb of God. Tapi, pernah nggak lo ngerasa bosan dengerin band yang itu-itu aja? Di balik hingar-bingarnya skena metal dunia, ada banyak banget band-band keren yang masih belum dapet sorotan pantas. Padahal, kualitas musik mereka nggak kalah gahar—bahkan bisa bikin lo mikir, “Kok bisa band sekeren ini nggak banyak yang tahu?!”

Di tulisan kali ini, gue bakal bahas beberapa band metal underrated dari berbagai subgenre—dari deathcore sampai progressive metal—yang layak banget buat lo dengerin. Siapa tahu, lo nemu band baru yang jadi favorit selanjutnya. Selain dari segi genre, band-band ini memiliki beberapa lirik-lirik unik yang sangat berbeda dari band-band metal lainnya. 

  1. Kenalan Sama Blackbriar: Permata Gelap dari Belanda yang Siap Menyihirmu


Di dunia musik metal yang penuh distorsi dan riff menggila, ada satu band yang hadir dengan nuansa berbeda: lebih magis, lebih sinematik, dan jujur aja—lebih mistis. Namanya Blackbriar. Mungkin lo belum sering denger namanya, tapi kalau lo suka metal yang punya atmosfer gelap, lirik puitis, dan vokal yang haunting, band asal Belanda ini wajib masuk radar lo.

Blackbriar terbentuk di tahun 2012 di kota kecil bernama Assen. Frontwoman mereka, Zora Cock, bukan cuma punya suara khas yang dramatis dan mendayu, tapi juga jadi roh utama di balik aura gotik dan teatrikal yang mereka bawa. Lo bakal ngerasa kayak lagi dengerin soundtrack film fantasi gelap—kombinasi antara cerita dongeng kelam dan dunia bawah yang indah sekaligus mengerikan.

Musik Mereka? Kayak Fairytale Horor yang Dijadiin Lagu

Musik Blackbriar sering disebut-sebut sebagai perpaduan antara symphonic metal, gothic rock, dan alternative metal. Tapi dibanding ngotot di satu genre, mereka lebih fokus bangun suasana. Setiap lagu mereka terasa kayak kisah—penuh emosi, dramatis, dan punya atmosfer kuat. Lagu-lagu kayak "Until Eternity", "I'm Just a Ghost", atau "Deadly Diminuendo" bisa bikin lo merinding sekaligus betah muter ulang berkali-kali. Menurut gue pribadi, pemilihan lirik yang berdasarkan "fairytale Horror" inilah yang menjadi keunikan dalam band ini. Gue pribadi jujur sangat jarang menemukan band dengan lirik yang bergaya seperti ini. Saat lo mendengarkan, lo seakan diajak mendalami gelapnya dongeng-dongeng eropa yang belum pernah lo dengar. 

Zora juga sering disandingkan sama vokalis-vokalis besar seperti Amy Lee (Evanescence) atau Sharon den Adel (Within Temptation)—tapi dia punya karakter sendiri yang nggak bisa disamain. Ada kelembutan, tapi juga ada sisi liar dan misterius yang bikin lagu-lagu Blackbriar makin hidup.

Kenapa Harus Dengerin Blackbriar?

Karena mereka beda. Di tengah banyaknya band metal yang fokus ke agresi dan teknik, Blackbriar milih jalur atmosfer dan emosi. Musik mereka kayak puisi gelap yang diiringi orkestra dan gitar berdistorsi. Cocok buat lo yang lagi suntuk, butuh pelarian musikal, atau sekadar pengen tenggelam dalam dunia lain untuk sementara waktu.

   2. Sabaton: Band Metal yang Bikin Sejarah Jadi Nggak Membosankan

Kalau lo ngira belajar sejarah itu ngebosenin, berarti lo belum kenal sama Sabaton. Band metal asal Swedia ini punya misi unik—mereka ngebawain lagu-lagu tentang perang, pahlawan, dan kisah-kisah epik dari sejarah dunia… tapi dibungkus dalam musik power metal yang megah dan penuh semangat. Nggak percaya? Coba dengerin satu lagu mereka, dijamin lo bakal merasa kayak lagi nonton film perang sambil headbang!

Dari Falun ke Dunia

Sabaton terbentuk di kota kecil Falun, Swedia, sekitar tahun 1999. Band ini dipimpin oleh sang vokalis ikonik Joakim Brodén, yang terkenal dengan suara bariton-nya yang berat dan gaya panggung penuh energi (plus rompi anti-peluru khasnya!). Bersama bassist Pär Sundström, Sabaton menjelma jadi salah satu band power metal paling berpengaruh di dunia.

Tapi yang bikin mereka beda dari band metal kebanyakan bukan cuma musiknya yang catchy dan penuh chorus besar, tapi juga tema-tema sejarah yang mereka angkat. Lagu-lagu mereka bercerita tentang Perang Dunia I & II, pertempuran legendaris, hingga tokoh-tokoh heroik dari berbagai negara—including Indonesia!

Musik Mereka Itu... Sejarah + Metal = Epic!

Bayangin lo lagi belajar sejarah tapi gurunya ngejelasin sambil main gitar dan drum. Kurang lebih kayak gitu rasanya dengerin Sabaton. Lagu kayak "Ghost Division", "Primo Victoria", atau "Bismarck" bukan cuma punya beat yang bikin semangat, tapi juga lirik yang penuh fakta sejarah. Mereka bahkan sampai bikin channel YouTube khusus bernama "Sabaton History Channel", di mana setiap lagu dijelasin konteks sejarahnya oleh sejarawan beneran. Jadi, dengerin Sabaton tuh ibarat dapet hiburan dan ilmu sekaligus. Keren, kan?

Gue pertama kali mendengarkan lagu mereka amat sangat kagum, bagaimana mereka mengkombine antara sejarah yang dibawakan dengan bahasa yang sederhana namun bisa membawa pendengar merasakan tentang apa yang di ceritakan. Salah satu lagu yang menurut gw paling epic adalah Attack on The Deadman, yang menceritakan tentang pasukan Rusia yang menjadi "zombie" dan masih melawan tentara Jerman pada saat itu. 

Diskografi yang Penuh Napalm dan Cerita

Sabaton udah punya deretan album keren, mulai dari:

  • Primo Victoria (2005) – yang jadi tonggak awal mereka angkat tema perang.

  • The Art of War (2008) – terinspirasi buku Sun Tzu!

  • Carolus Rex (2012) – ngebahas sejarah Swedia dan dirilis dalam versi bahasa Inggris dan Swedia.

  • The Great War (2019) – fokus ke Perang Dunia I.

  • The War to End All Wars (2022) – sekuel dari The Great War, makin sinematik dan mendalam.

Dan masih banyak lagi. Mereka juga aktif tur keliling dunia, termasuk pernah tampil di Wacken, Download, hingga tur bareng band besar lain kayak Amon Amarth dan Nightwish.

Kenapa Lo Harus Dengerin Sabaton?

Karena Sabaton itu lebih dari sekadar musik. Mereka ngajak lo buat peduli sama sejarah lewat lagu-lagu yang membakar semangat. Lo bisa belajar tentang keberanian, tragedi, strategi perang, dan kisah-kisah manusia yang luar biasa—semuanya diiringi double pedal drum dan solo gitar yang nendang.

Dan buat lo yang belum terlalu familiar sama power metal, Sabaton bisa jadi pintu masuk yang menyenangkan: melodinya gampang dicerna, liriknya jelas, dan atmosfernya... luar biasa epik.

3. Wagakki Band: Saat Musik Tradisional Jepang Bertemu Rock Modern

Kalau lo penggemar musik Jepang, anime, atau suka yang unik-unik, nama Wagakki Band mungkin udah pernah mampir ke telinga lo. Tapi kalau belum, siap-siap aja lo akan dibikin takjub sama band satu ini. Bayangin: shamisen, shakuhachi, dan koto—alat musik tradisional Jepang—digabungin sama gitar elektrik, drum, dan vokal powerful. Hasilnya? Musik yang megah, emosional, dan pastinya beda dari yang lain!



Dari Cover ke Panggung Dunia

Wagakki Band (和楽器バンド) pertama kali muncul sekitar tahun 2013. Mereka awalnya viral gara-gara nge-cover lagu-lagu Vocaloid seperti Senbonzakura—tapi bukan sekadar cover biasa. Mereka ngaransemen ulang lagu-lagu digital itu jadi versi full band dengan instrumen tradisional Jepang. Hasilnya? Mind-blowing. Lagu Senbonzakura versi mereka langsung meledak di YouTube, dan dari situ nama mereka mulai dikenal luas.

Formasi band ini terdiri dari delapan orang, termasuk vokalis karismatik Yuko Suzuhana yang punya latar belakang musik klasik dan puisi Jepang. Mereka juga punya pemain shamisen, shakuhachi (suling bambu), koto, dan taiko—semuanya diiringi oleh gitar elektrik, bass, dan drum modern. Jadi, jangan heran kalau konser mereka terasa kayak gabungan konser rock dan pertunjukan budaya Jepang sekaligus!

Gaya Musik: Tradisional Tapi Bertenaga

Wagakki Band bukan band J-Rock biasa. Musik mereka itu unik banget karena benar-benar menggabungkan unsur musik tradisional Jepang (wagakki) dengan energi rock dan metal modern. Mereka bisa bawain lagu yang emosional banget, lalu langsung lompat ke lagu yang enerjik dan bombastis. Lo bisa dengerin lagu seperti:

  • Senbonzakura – pintu masuk terbaik buat kenalan sama gaya mereka.

  • Homura – cover penuh emosi dari lagu Kimetsu no Yaiba.

  • Strong Fate dan Valkyrie – nuansa rock modern ketemu elemen budaya Jepang.

  • Aria of Life – lagu mereka yang jadi opening anime Mars Red.

Mereka juga punya aransemen yang sinematik dan teatrikal—jadi cocok banget buat lo yang suka lagu dengan "drama".



Kenapa Mereka Spesial?

Yang bikin Wagakki Band beda banget dari band lain bukan cuma musiknya yang unik, tapi juga identitas budaya yang mereka bawa. Di saat banyak band Jepang cenderung "kebarat-baratan", Wagakki Band justru ngebawa budaya lokal ke panggung internasional. Busana mereka penuh dengan unsur kimono, tata panggungnya megah, dan mereka selalu berhasil bikin penonton luar negeri pun terkagum-kagum.

Mereka udah tampil di Amerika, Eropa, dan berbagai event besar di Jepang. Bahkan sempat main di SXSW (South by Southwest) di Texas, dan tur ke beberapa kota besar dunia. Artinya? Musik mereka bukan cuma buat pecinta Jepang, tapi udah bisa dinikmati lintas budaya.

Wagakki Band Itu Buat Siapa?

Kalau lo suka:

  • Musik Jepang tapi pengen yang beda dari J-Pop biasa.

  • Lagu anime tapi dengan aransemen yang lebih ‘nendang’.

  • Perpaduan antara alat musik tradisional dan modern.

  • Konser yang teatrikal dan penuh energi.

...Wagakki Band wajib banget masuk playlist lo!

4. Bloodywood: Band Metal India yang Bikin Lo Patah Stereotip!

Siapa bilang musik metal itu cuma milik barat? Kalau lo belum pernah denger nama Bloodywood, berarti lo kelewatan salah satu band paling berani dan unik yang muncul di skena metal global dalam satu dekade terakhir. Bayangin perpaduan nu-metal ala Linkin Park, ketukan folk India yang khas, dan lirik penuh semangat tentang perlawanan, perjuangan, dan harapan. Kedengerannya nggak biasa? Emang. Tapi justru itu yang bikin Bloodywood jadi band yang nggak bisa diabaikan.

Dari YouTube ke Panggung Dunia

Awalnya Bloodywood cuma project iseng duo musisi asal New Delhi: Karan Katiyar (gitaris & produser) dan Jayant Bhadula (vokal growl). Mereka mulai dikenal gara-gara nge-cover lagu-lagu pop mainstream jadi versi metal (bahkan sempet nge-cover Tunak Tunak Tun jadi banger metal!). Tapi dari situ, mereka sadar—kenapa nggak bikin karya orisinal yang ngebawa identitas budaya India sekalian?

Akhirnya, mereka rekrut rapper energik Raoul Kerr, dan format Bloodywood jadi lengkap: metal keras, rap tajam, dan sentuhan instrumen tradisional India kayak dhol, flute, dan tabla. Boom! Dunia metal pun mulai melirik India dengan cara yang baru.

Musik Mereka Itu... Rage + Hope + Budaya Lokal

Satu hal yang bikin Bloodywood beda adalah semangat sosial dalam lirik-liriknya. Mereka bukan sekadar teriak-teriak soal kemarahan, tapi juga ngangkat isu-isu penting kayak kesehatan mental (Jee Veerey), pelecehan seksual (Ari Ari), perlawanan terhadap penindasan (Dana Dan), hingga kritik terhadap sistem sosial.

Mereka juga selalu menyelipkan bahasa Hindi, Punjabi, dan Inggris dalam lagu-lagunya—bikin musik mereka terasa lokal tapi tetap bisa dinikmati global. Musiknya sendiri mirip campuran antara Linkin Park, Rage Against the Machine, dan Pantera… tapi tetap punya rasa India yang kuat.

Album Debut & Gebrakan Global

Tahun 2022, mereka akhirnya rilis album debut: Rakshak. Dan seperti judulnya (yang artinya “pelindung” dalam bahasa Sanskerta), album ini jadi bentuk perlawanan, kekuatan, dan penyembuhan dalam bentuk musik. Nggak heran kalau album ini langsung disambut antusias oleh fans metal dari seluruh dunia.

Setelah itu, mereka tur ke Eropa, Amerika, dan tampil di festival besar kayak Wacken Open Air—dan bikin crowd meledak dengan kombinasi metal keras dan hentakan dhol!

Kenapa Lo Harus Dengerin Bloodywood?

  • Karena mereka segar. Lo belum pernah dengar yang kayak begini—metal dengan soul khas India.

  • Karena mereka berani. Mereka ngomongin hal-hal yang penting dan nyata, bukan cuma lirik puitis tanpa makna.

  • Karena mereka enerjik. Setiap lagu mereka punya hook yang nendang, chorus yang bisa lo teriakin, dan beat yang bikin lo pengen loncat.

  • Karena mereka ngasih harapan. Di dunia metal yang sering kelam, Bloodywood hadir sebagai cahaya dan suara pemberontakan yang positif.

5. The Hu: Saat Mongol, Metal, dan Tradisi Bertemu Jadi Satu Ledakan Musik



Lo pernah bayangin suara metal digabungin sama teriakan perang suku Mongol, alunan alat musik tradisional, dan vokal tenggorokan khas dataran Asia Tengah? Kalau belum, lo harus kenalan sama The Hu—band asal Mongolia yang berhasil bikin dunia musik ngelirik ke Timur, bukan cuma karena musiknya keras, tapi juga autentik banget.

The Hu bukan band metal biasa. Mereka nyebut musik mereka sebagai “Hunnu Rock”—gabungan dari heavy metal dengan alat musik tradisional Mongol seperti morin khuur (biola kepala kuda), tovshuur (gitar dua senar tradisional), dan vokal tenggorokan khas Mongolia (throat singing). Hasilnya? Musik yang nggak cuma bikin lo headbang, tapi juga ngebawa suasana epik, kayak lo lagi naik kuda di padang rumput sambil menuju medan perang.

Awalnya dari Tradisi, Sekarang Mewakili Bangsa

The Hu dibentuk tahun 2016 di Ulaanbaatar, Mongolia. Keempat anggota utamanya—Gala, Jaya, Temka, dan Enkush—adalah musisi profesional yang punya akar kuat dalam musik tradisional Mongol. Tapi mereka pengen sesuatu yang lebih besar: ngebawa budaya mereka ke dunia lewat jalur yang nggak biasa, yaitu... metal.

Lagu-lagu awal mereka kayak “Yuve Yuve Yu” dan “Wolf Totem” langsung viral di YouTube. Gak lama, dunia mulai sadar: ini bukan gimmick. Ini sesuatu yang fresh, penuh semangat, dan punya identitas kuat.

Musik Mereka Itu... Epik dan Menggelegar

Jangan harap breakdown brutal ala deathcore di sini. Musik The Hu lebih ke groove-heavy rock dan folk metal—tapi dengan nuansa sinematik yang kuat banget. Mereka sering banget ngebawain lirik dalam bahasa Mongol kuno, yang terinspirasi dari filosofi, sejarah, dan kebanggaan bangsanya.

Lo akan nemu beat yang berat, riff yang menghipnotis, dan lapisan vokal rendah throat singing yang bisa bikin bulu kuduk berdiri. Dan jangan lupakan energi tribal yang mereka bawa lewat hentakan war drum—bikin lo ngerasa kayak lagi ikut ritual suku sebelum pertempuran besar.



Album & Kolaborasi yang Menggebrak

  • The Gereg (2019) – album debut mereka, di mana dunia mulai sadar bahwa The Hu bukan cuma "band unik", tapi juga punya soundscape global yang serius.

  • Rumble of Thunder (2022) – lebih eksploratif dan garang, dengan kolaborasi bareng musisi barat kayak Lzzy Hale (Halestorm) dan Jacoby Shaddix (Papa Roach). Lagu kayak Black Thunder dan This is Mongol jadi bukti bahwa The Hu bisa bersaing di level internasional.

Mereka juga terlibat dalam soundtrack film dan game, termasuk kerja bareng Lucasfilm buat proyek Star Wars: Jedi – Survivor. Bayangin! Dari stepa Mongolia ke galaksi jauh!

Kenapa Lo Harus Dengerin The Hu?

  • Karena mereka beda. Lo belum pernah denger suara kaya gini di musik metal barat.

  • Karena mereka kuat secara identitas. Mereka bawa budaya mereka tanpa kompromi, tapi tetap bisa relate ke pendengar global.

  • Karena mereka bikin metal terasa... berakar. Musik mereka bukan sekadar noise, tapi punya sejarah, semangat, dan nilai di baliknya.

  • Karena ini adalah pengalaman mendengarkan. Lo gak cuma denger lagu, lo merasakan dunia yang mereka ciptakan.

oke guys, mungkin segitu dulu beberapa band metal underrated yang layak buat masuk playlist lo semua. Pada lain kesempatan, gue bakal nyoba bikin part 2 nya. Cause gue masih harus ngumpulin beberapa band yang menurut gue unik dan underrated lainnya. sekian :D


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bedah Lirik Esa 510: Lagu Tentang Rindu dan Penyesalan

Makna Lagu “A Part of Me” – Neck Deep: Ketika Hati Tak Mau Melepaskan